Somewhere Over the Rainb… Dream?!

Dream… Menurut kamus Inggris-Indo gue, dream itu artinya mimpi.

Menurut KBBI, mim·pi n 1 sesuatu yg terlihat atau dialami dl tidur; 2 ki angan-angan;

Sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur? Yup. Sebuah pengalaman semu yang begitu nyata dengan kita sebagai peran utamanya. Tempat di mana kita bisa berpetualang jauh melampaui batas kemanusiaan kita. Bercengkrama dengan orang asing yang entah kenapa begitu kita kenal dalam mimpi itu. Skenario macam apa yang bisa lebih mengejutkan selain dalam mimpi? Mereka bilang mimpi itu adalah sebuah media yang Tuhan pakai untuk memberi sedikit bocoran tentang takdir kita. Gue suka mimpi. Apalagi kalau mimpinya lagi bagus. Tapi banyak orang juga yang bilang kalo mimpi indah itu adalah awal bencana. Mereka pernah bilang kalau mimpi yang kita alami tersebut diceritakan kepada orang lain, maka arti dan “takdir” yang terlukis dalam mimpi itu tidak akan menjadi kenyataan. Gue sih bukan tipe orang yang percaya kepada hal-hal yang kayak gitu. Tapi untuk menebak-nebak arti mimpi saja sudah menyajikan hiburan tersendiri buat gue. Maka dari itu gue kurang suka dengan ide seperti lucid dreaming.

Gue pernah baca kalau mimpi itu hanya terjadi karena otak yang sedang beristirahat itu sedang “mengobrak-abrik” memori-memori masa lalu. Jadi apapun yang pernah kita impikan itu sebenarnya sudah pernah kita lihat di alam nyata. Termasuk orang asing yang kita ajak bicara dalam mimpi dan tempat yang baru pertama kali kita datangi dalam mimpi.

Tapi gue akui, belakangan ini gue jarang banget dapet mimpi. Entah emang gue udah jarang dapet mimpi atau sebenernya gue masih sering bermimpi tapi setelah bangun gue langsung lupa kalau gue abis ngimpi. Apa kemampuan daya ingat gue yang sekarang sudah selevel dengan ikan yang hanya bertahan dua detik saja atau gimana, gue juga nggak ngerti. And somehow, gue mulai kangen gitu sama lokasi-lokasi yang sering gue datengin dalam mimpi.

Misalnya aja warung milik pasangan nenek-kakek itu yang berada dalam sebuah perumahan yang bahkan belum pernah gue liat sebelumnya. Dan setiap gue ke sana, si nenek itu pasti sedang mengenakan sebuah daster berwarna kehijauan dengan motif bunga-bunga kemerahan yang sedang bermekaran. Dan si kakek itu tidak lebih dari kakek-kakek pada umumnya. Mengenakan kaus dalam dengan bawahan sarung kotak-kotak berwarna ungu. Anehnya, mereka selalu membiarkan gue ngambil barang dagangannya tanpa bayar. Dan yang lebih anehnya lagi, warungnya-lah yang selalu gue datangi kalau gue lagi mimpi dikejar-kejar sesuatu. Entah itu segerombolan anak-anak yang dengan brutalnya memburu gue dengan membawa-bawa kapak dan golok, entah itu zombie, entah itu dinosaurus, gue pasti ngumpetnya ke warungnya si nenek ini. Pasti efek kebanyakan nonton film -_-

Contoh lainnya lagi adalah (lagi-lagi) sebuah perumahan, tapi kali ini perumahan ini adalah perumahan yang udah kosong. Pintu gerbangnya yang berdiri tegak dan terkesan telah jatuh karena keangkuhannya itu dikunci dengan menggunakan rantai yang sudah karatan. Dan entah ilmu hitam apa yang gue pake, yang pasti tiba-tiba gue udah masuk aja ke wilayah perumahan itu. Setiap gue mimpi ke tempat itu, pasti bagian “nerobos gerbangnya” itu kayak di-skip gitu. Tiba-tiba udah di dalem aja. Rumah-rumahnya udah kebungkus debu dan lumpur yang udah ngering gitu. Dan setiap mimpi ke perumahan itu, gue pasti masuk ke rumah yang sama. Rumah tipe 21 yang di dalamnya ada kolamnya. Entah itu kolam renang atau kolam ikan, yang pasti gue bakal berenang di situ. Nggak peduli seberapa hijau airnya dan tingkat menjijikkannya kolam itu, gue akan tetap berenang di situ walaupun gue nggak pernah berniat untuk berenang beberapa saat sebelumnya.

Tempat yang ketiga? Cuma jalanan panjang yang sepi, gersang, panas terik, dan entah kenapa gue akan terus nungguin angkot di sisi jalannya padahal hanya ada satu angkot yang lewat pada hari itu. Dan itu juga nggak nentu datengnya jam berape. Tapi gue tetep nunggu di situ semenderita apapun gue. Toh kadang buah semangka seger yang masih dingin itu tiba-tiba muncul di samping gue.

Tempat yang sering gue datengin dalam mimpi yang lainnya? Banyak banget seakan-akan gue ini udah kayak sutradara film yang kehabisan budget sehingga selalu memakai studio yang sama. Satu tempat aja bisa gue datengin antara 4 sampai 8 kali dalam mimpi yang berbeda-beda tema, waktu, dan konfliknya.

Kenapa gue bisa inget? Karena; 1. Saking seringnya gue ngedatengin tempat itu, dan yang ke 2, Gue catet dalam sebuah diary khusus. Yup, diary khusus buat nyatet kejadian yang gue inget dalam mimpi sebelum gue lupa. Semua itu gue simpen di MS. Word yang udah gue kasih password dan gue kumpulin dalam sebuah folder bernama “Dreambox”. Kenapa gue nulis mimpi gue? Simpel. Karena gue suka nulis hal yang nggak penting. Gara-gara gak punya kerjaan juga sih. Gue juga sampe punya blog yang sengaja gue setting jadi private karena blog itu berisi kumpulan-kumpulan surat yang gue tulis untuk diri gue sendiri di masa mendatang. Atau buat keluarga gue nanti kalo-kalo gue “pulang” lebih awal. Sebesar itulah hasrat gue untuk menulis hal-hal yang nggak penting.

Introvert? Sebagai seorang Phlegmatis, itu termasuk normal, kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s